Cagar Budaya Indonesia
Orang tanpa pengetahuan tentang sejarah masa lalu, asal usul, dan budaya mereka seperti pohon tanpa akar – Marcus Garvey

Cagar Budaya Indonesia : Hallo sobat jalan-jalan, kali ini abang mau cerita nih tentang salah satu Cagar Budaya yang ada di Kabupaten Sleman. Ngomong-ngomong, sebelum abang cerita panjang lebar tentang cagar budaya, abang mau tanya dulu nih, apa sobat jalan-jalan tau apa itu Cagar Budaya? Wah pasti ada yang sudah tau dan ada yang belum juga yah hehe. Tenang, abang kasih tau yah ...

Sobat jalan-jalan, berdasarkan Undang-Undang No. 11 Tahun 2010, Cagar Budaya adalah Warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bagunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya dan kawasan cagar budaya di darat atau di air yang perlu dilestarikan keberadaanya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan kebudayaan melalui proses penetapan. Nah kalau Benda Cagar Budaya adalah benda alam dan benda buatan manusia, baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia. Nah itu pengertian dari cagar budaya dan benda cagar budaya ya sobat jalan-jalan.

Jika kita berbicara tentang situs sejarah maupun cagar budaya di Kabupaten Sleman sepertinya tidak akan ada habisnya. Bukan hanya terkenal dengan wisata alamnya yang indah, kabupaten yang baru-baru ini meraih Gold Kategori Pariwisata di Indonesia’s Attractiveness Award 2019 juga memiliki wisata sejarah yang wajib diketahui. Siapa yang tidak tahu Candi Prambanan atau Gunung Merapi di Sleman? Pasti semuanya tahu, tapi itu hanya beberapa destinasi yang ada di Kabupaten Sleman. Masih ada banyak destinasi-destinasi unggulan lainnya.







Candi Sambisari, Situs Cagar Budaya yang Sempat Terpendam . Sobat jalan-jalan ada yang pernah ke Candi Sambisari kah? Mungkin ada yang udah pernah ada yang belum yaah hehe . 🔎 Candi Sambisari merupakan Candi Hindu peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang sempat terpendam oleh erupsi Gunung Merapi. Tapi sekarang sudah dipugar. . 📍Sesuai dengan namanya, Candi Sambisari ini berada di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, DIY. Atau 3 km dari Bandara Adisucipto. . 💰Harga Tiket Masuk (HTM) Candi Sambisari adalah Rp. 5000,- untuk Wisatawan Lokal dan Rp. 10.000,- untuk Wisatawan Mancanegara. . ⏰ Candi Sambisari ini mulai buka pukul 08.00 - 17.00 WIB yaah. Dan best time-nya antara 15.00 - 17.00 WIB. Jika cerah sobat jalan-jalan bisa melihat sunset yang cantik dari sini. hihi . ⁉️ Penasaran dengan cerita lengkapnya Candi Sambisari? Tenang, Kalian bisa cek ceritanya di siipuljalanjalan.com yaah 😄😘 . #candisambisari #candisambisarijogja #candisambisarikalasan #cagarbudayadanmuseum #rawatataumusnah
A post shared by ᔕYᗩIᖴᑌᒪ ᗷᔕ (@ipulsoedibjoe) on

Seperti destinasi yang akan abang bahas dan juga merupakan salah satu cagar budaya berbentuk candi yang ada di Kabupaten Sleman ini. Nama candinya adalah Candi Sambisari, mungkin sebagian dari sobat jalan-jalan ada yang sudah berkunjung kesini yah dan bisa jadi ada yang masih asing dengan candi ini. Yuk disimak baik-baik ...

Selayang Pandang Candi Sambisari
Cagar Budaya Indonesia
 Candi Sambisari 
Foto : Dokumen Pribadi

Sobat jalan-jalan, Candi Sambisari merupakan salah satu Candi Hindu yang ada di Kabupaten Sleman. Menurut informasi yang abang baca, Candi Sambisari ditemukan pada tahun 1996 oleh seorang petani bernama Karyowinangun yang saat itu sedang mencangkul sawahnya. Saat itu mata cangkul Karyowinangun mengenai bongkahan batu dengan pahatan dipermukaanya. Berita tentang penemuan pada akhirnya terdengar oleh Kantor Arkeologi di Prambanan dan akhirnya area sekitaran candi pun diamankan. 

Infografis Sejarah Candi Sambisari

Menurut informasi, dibutuhkan waktu hampir 21 tahun loh dari 1966 sampai bulan Maret 1987 untuk merampungkan satu bangunan utuh candi. Wow lama banget yah ternyata sobat jalan-jalan. Dilihat dari arsitektur pada bangunanya diperkirakan candi ini dibangun sekitar tahun 812 – 838 M semasa dengan Candi Prambanan, Candi Plaosan, dan Candi Sojiwan. Karena hingga saat ini belum ada bukti konkrit terkait sejarah pendirian Candi Sambisari.

 Bangunan Candi Sambisari dilihat dari atas
Foto : Dokumen Pribadi 

Ada yang menarik nih Sobat jalan-jalan, biasanyakan kita melihat bangunan candi menjulang gagah keatas yah, nah kalau di Candi Sambisari kita harus menuruni puluhan anak tangga untuk sampai di lokasi. Yaa kira-kira letaknya 6,5 meter lebih rendah dari sekitarnya. Tapi dari atas pun sudah terlihat betapa cantik bangunan Candi Sambisari ini. 

candi sambisari
Penampakan Candi Induk Sambisari
Foto : Dokumen Pribadi

Dari kejauhan sobat jalan-jalan sudah dapat melihat atap candi diantara rerumputan dan dua pagar yang melindungi salah satu bangunan cagar budaya yang ada di Kabupaten Sleman dan masuk kedalam Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta (BPCB Yogyakarta) ini. Semakin dekat kita akan melihan satu candi induk yang menghadap kearah Barat dengan ukuran 13,65 x 13,65 m dan tinggi keseluruhan 7,5 m. Selain itu juga terdapat 8 buah lingga patok yang tersebar sesuai arah mata angin dan ada juga 3 buah candi pendamping (pewara) persis di depan candi induk.

candi sambisari
Candi Pewara Selatan
Foto : Dokumen Pribadi

Candi Sambisari
Candi Pewara Tengah 
Foto : Dokumen Pribadi

Candi SAmbisari
Candi Pewara Utara
Foto : Dokumen Pribadi

Lingga Patok yang tersebar di seluruh penjuru mata angin
Foto : Dokumen Pribadi

Nah sobat jalan-jalan, ketika kalian menuju ke candi induk, kalian akan menaiki tangga dan akan menjumpai singa yang ada didalam mulut makara (hewan dalam mitologi Yunani). Selanjutnya dibagian dinding candi kalian akan melihat 3 relung yang masing-masing berisikan sebuah arca. Di sisi Utara kalian akan melihat arca Dewi Durga yang merupakan istri dari Dewa Syiwa dengan 8 tangan yang masing-masing menggenggam senjata.  Di sisi Timur terdapat arca Ganesha dan selanjutnya di sisi selatan terdapat arca Agastya dengan tasbih yang dikalaungkan dilerhernya. Abang juga sempat melihat ada bunga yang diletakan dibawah ketiga arca tersebut. 

candi sambisari
Penampakan bangunan candi induk dari pintu luar 
Foto : Dokumen Pribadi

Candi Sambisari
Arca Agastya dengan tasbih yang dikalungkan dilehernya
Foto : Dokumen Pribadi 

candi sambisari
Archa Dewi Durga dengan 8 tangan yang memegang senjata
Foto : Dokumen Pribadi

Archa Ganesha
Archa Ganesha
Foto : Dokumentasi Pribadi

Lanjut yaa sobat jalan-jalan, jika kalian masuk kedalam candi utama, kalian akan melihat lingga dan yoni yang ukurannya cukup besar. Lingga dan yoni ini menegaskan bahwa Candi Sambisari ini dipakai sebagai pemujaan Dewa Syiwa. Selanjutnya didepan candi induk terdapat tiga buah candi pewara, pewara tengah berukuran 5,90 x 4,80 m, pewara utara dan selatan masing-masing berukuran 4,80 x 4,80 m. Ketiga candi pewara tersebut tidak memiliki tubuh dan atap yang ada hanya kaki dan diatasnya terdapat pagar langka. Di candi pewara tengah dan utara, di tengah-tengah ruangan yang dikelilingi pagar langka terdapat padmasana. Sedangkan di candi pewara selatan tidak ditemukan lapik. 

candi sambisari
Penampakan Lingga Yoni di dalam Candi Sambisari
Foto : Dokumen Pribadi 

Rute Menuju Candi Sambisari

Candi sambisari
Candi Sambisari 
Foto : Dokumen Pribadi

Sesuai dengan namanya, Candi Sambisari ini berada di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Atau 14 km dari Titik Nol Kilometer Yogyakarta,  3 km dari Bandara Adisucipto, dan 12 km dari Candi Prambanan. Dibawah ini abang kasih maps-nya yah, biar kalian lebih mudah untuk menuju lokasi ...



Sejauh ini belum ada transportasi umum yang sampai ke lokasi, tetapi kalian bisa menggunakan kendaraan pribadi baik motor maupun mobil. Akses menuju sini pun sudah bagus dan sudah disediakan penunjuk arah mulai dari jalan utama sampai ke lokasi.


Jam Buka dan Harga Tiket Masuk (HTM)

Candi Sambisari
Infografis Data Pengunjung Candi Sambisari

Jam operasional Candi Sambisari mulai pukul 08.00 WIB – 17.00 WIB. Untuk HTM-nya, Wisatwan Lokal (Wislok) : Rp. 5000,- dan Wisatawan Mancanegara (Wisman) : Rp. 10.000,-. Best time berkunjung ke Candi Sambisari adalah 15.00 WIB – 17.00 WIB karena cuacanya sudah mulai adem dan kalian berkesempatan melihat sunset yang cantik. 

Candi Sambisari dari Segi Pariwisata

Candi Sambisari
Yakin sobat jalan-jalan nggak mau ke Candi Sambisari?

Selain sebagai cagar budaya yang harus di jaga dan dilestarikan, candi pun erat kaitanya dengan dunia pariwisata. Oleh karena itu aspek 3A sangat lah penting. Hal ini akan berpengaruh pada jumlah wisatawan yang berkunjung, lama kunjungan (length of stay) dan juga minat wisatawan untuk berkunjung kembali. Aspek 3A meliputi Atraksi, Amenitas, dan Aksesbilitas.

Atraksi
Ada beberapa atraksi yang terdapat di Candi Sambisari diantaranya adalah sobat jalan-jalan bisa belajar sejarah dari bangunan-bangunan candi yang ada. Di bagian atas kawasan candi sudah dilengkap dengan jalan yang bagus untuk kalian yang mau jalan santai atau jogging. Selanjutnya yang tidak terlupakan adalah sebgai spot foto. Sobat jalan-jalan boleh banget kok foto di dengan background Candi Sambisari, tapi tidak menaiki atau merusak fasilitas yaah. 

Candi Sambisari
Sebagai objek untuk di teliti, salah satunya adalah dari relief pada dinding candi
Foto : Dokumen Pribadi

Candi Sambisari
Sudah di sediakan jalan yang dapat digunakan untuk jogging atau jalan santai
Foto : Dokumen Pribadi

Amenitas

Candi Sambisari
Salah satu fasilitas di Candi Sambisari adalah pendopo
Foto : Dokumen Pribadi 

Selanjutnya setelah atraksi dirasa cukup, maka aspek selanjutnya adalah amenitas atau fasillitas pendukung.  Di Candi Sambisari sudah tersedia lahan parkir yang cukup untuk menampung mobil dan motor wisatawan. Toilet dan Musolah pun sudah disediakan. Pengelola juga telah membuat beberapa pendopo untuk beristirahat dan jangan lupa juga untuk membuang sampah pada tempatnya yah, karena pihak pengelola sudah menyediakan tempat sampah di sejumlah titik. 

Sudah disediakan toilet juga loh sobat jalan-jalan
Foto : Dokumen Pribadi

Buanglah mantan sampah pada tempatnya yah
Foto : Dokumen Pribadi

Aksesbilitas

Sudah tersedia papan penujuk arah menuju Candi Sambisari
Foto : Dokumen Pribadi

Adanya atraksi dan amenitas tidak menjamin wisatawan banyak yang datang apabila akesebilitas menuju lokasi belum bagus.  Tapi tenang sobat jalan-jalan, menuju Candi Sambisari sangatlah mudah. Selain lokasi sudah terdaftar di Google Maps, papan penunjuk arah pun sudah banyak tersedia di sisi jalan utama hingga 100 m menuju Candi Sambisari. Di lokasi candi pun sudah di sediakan papan informasi terkait sejarah candi dan papan penunjuk arah.

 Sobat jalan-jalan, kalian mau kemana duluan nih? hihi
Foto : Dokumen Pribadi

Mau tau tentang sejarah Candi Sambisari ?
Foto : Dokumen Pribadi

Setelah semua aspek 3A sudah ada, untuk wisata yang berbasis cagar budaya, pengelola harus membatasi jumlah kunjungan setiap hari. Hal ini untuk mengurangi dampak buruk pada lingkungan candi akibat jumlah kunjungan yang tidak terkontrol.

Rekomendasi Tempat Wisata Terdekat dari Candi Sambisari

Soto Bathok Mbah Katro

Lezatnya Soto Bathok Mbah Katro
Foto : Dokumen Pribadi 

Berjarak kurang lebih 200 m dari Candi Sambisari, Soto Bathok Mbah Katro bisa menjadi alternatif wisata kuliner. Selain rasanya yang lezat dan harganya yang murah, Soto Bathok Mbah Katro ini juga terkenal dengan cara penyajianya menggunakan Batok (Tempurung Kelapa). Yakin nggak mau coba sobat jalan-jalan? 

Candi Prambanan

Kalian sudah pernah berkunjung ke Candi Prambanan?
Foto : Dokumen Pribadi 

Salah satu cagar budaya yang terkenal selanjutnya adalah Candi Prambanan. Berjarak kurang lebih 7 km dari Candi Sambisari, Candi Prambanan ini merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia loh sobat jalan-jalan.


Sunset terbaik di Yogyakarta? Ya Candi Ijo!
Foto : Dokumen Pribadi

Rekomendasi tempat wisata berikutnya adalah Candi Ijo. Candi yang berjarak 12 km dari Candi Sambisari ini bisa menjadi alternatif untuk sobat jalan-jalan yang ingin menikmati sunset terbaik dari ketinggian di Yogyakarta. 

Pesan untuk pengunjung Candi Sambisari

Candi Sambisari merupakan kawasan bebas asap rokok yaa sobat jalan-jalan
Foto : Dokumen Pribadi

Sobat jalan-jalan, ada beberapa tips nih dari abang untuk temen-temen yang akan berkunjung ke Candi Sambisari, di inget yah ...
1. Bersikap sopan dan santun lah selama berada di lingkungan candi. Jaga ucapan, tidak berpacaran dan juga tolong jangan “meludah” disembarang tempat. Ingat candi selain sebagai tempat bersejarah, candi adalah tempat suci untuk beribadah dan berdoa.
2. Jangan makan, minum, apalagi merokok di area candi dan selalu buang sampah pada tempat yang telah disediakan.
3. Jangan melalukan tindakan “vandalisme” di lingkungan candi. Contohnya adalah mencoret-coret bangunan candi.

 Dilarang memanjat pagar candi
Foto : Dokumen Pribadi

4. Jangan mengoperasikan drone tanpa izin  BPCB D.I. Yogyakarta
5. Jika sobat jalan-jalan melihat ada yang berdoa dimohon tidak menggangunya yah atau bersuara keras-keras. Hargai setiap perbedaan.
6. Jangan menaiki bangunan candi demi kepuasan foto semata yah sobat jalan-jalan. Foto lah di spot-spot yang memungkinkan yang tidak merusak apapun dari bangunan candi.

Selalu gosokan alas kaki kalian sebelum naik ke candi utama
Foto : Dokumen Pribadi

7. Jika sobat jalan-jalan ingin menaiki candi utama, usahakan selalu menggosokan alas kaki kalian di “keset” yang telah disediakan. Karena pasir yang terbawa di alas kaki dan bergesekan dengan bagian lantai candi yang lama kelaman dapat menyebabkan “kehausan” pada batu-batu candi. Selain itu, memastikan tidak ada kotoran (kotoran hewan) yang terinjak dan mengotori bagian candi. Karena sebagian candi digunakan untuk berdoa maka harus tetap suci. 
8. Jangan memindahkan batu atau bagian candi lainnya yang ada di kawasan candi ya sobat jalan-jalan.

Apapun yang kalian lihat jangan pernah untuk dipindahkan. Biarkan ditempatnya 
Foto : Dokumen Pribadi 

Cara Melestarikan Cagar Budaya
1. Sediakan guide yang berkompeten untuk membantu wisatawan mengerti tentang sejarah dari bangunan candi.
2. Selalu batasi jumlah pengunjung. Hal ini karena bangunan candi memiliki carrying capacity atau daya dukung lingkungan yang cukup terbatas. Pembatasan pengunjung adalah cara agar bangunan candi tetap utuh. Banyak pengunjung tidak memulu memiliki dampak yang positif tapi bisa saja bermakna negatif apabila tidak bisa menjaga lingkungan candi sebagai cagar budaya yang harus dilestarikan. 
3. Ajak generasi millennial untuk turun langsung memperkenalkan potensi cagar budaya dengan cara mengunjungi dan memposting di media sosialnya masing-masing. Percaya atau tidak peranan Gerenasi Millennial saat ini sangatlah penting dalam menyebarkan informasi berbasis media sosial. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengungkapkan pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial. 

Nggak ada yang ngelarang kok foto di candi, selagi kamu foto ditempat yang benar
Foto : Dokumen Pribadi

Ingat, apapun namannya, candi merupakan penginggalan bersejarah dan cagar budaya yang wajib kita jaga dan lestarikan. Jangan sampai anak cucu kita hanya bisa mendengar cerita dan gambarnya saja di internet karena rusaknya bangunan cagar budaya. Rawat candi dan bangunan sejarah lainnya mulai dari diri sendiri. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi. Rawat atau Musnah!


Sumber :
Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya
Balai Pelestari Cagar Budaya Yogyakarta (BPCB D.I.Y)